Friday, February 15, 2008

Diary Emak Ayam 2 : Sodomi Massal

Sebutlah hari yang kemarin saya lalui sebagai: Hari Sodomi Massal.
Hahaha.
Apa iya?

Tapi, memang begitulah yang terjadi.
Entah ada apa dengan Valiant si Om Bandot dan Christian bin Bullier, pasangan Kulkas Dua Pintu—julukan Muti (Bukune) untuk pria-pria berbadan besar ini—hari itu. Mereka tampak begitu liar dan tak terkendali. Mirip monyet kalo lagi horny. Atau mungkin, mereka merasa superior dari sisi fisik sehingga tindakan bully mereka pun semakin merajalela. Menindas yang kecil, melibas yang mungil.

Seharusnya, saya sudah bisa mencium gelagat ini sejak seminggu yang lalu. Tepat hari pertama saya memungut Val sebagai Anak Ayam kesembilan. Atau, sebutlah, saya sudah tertipu dengan wajahnya yang se-chubby bayi raksasa, padahal sungguh dia sepahit empedu. (hallah….)

Kemalangan menimpa satu per satu anak ayam, dan merembet ke para anak kambing—julukan saya untuk teman-teman Bukune. Ceritanya, sore itu saya sehabis mengantarkan para anak kambing ke Planet Hollywood. Ada launching buku terbaru mereka. Jadilah, saya meninggalkan para anak ayam bersama papa mereka. Agak waswas juga. Karena di siang harinya, berdasarkan laporan Alit dan Resita, sebelum saya pergi pun Val sudah melakukan tindakan tanpa mengindahkan ukuran tubuh kepada si Resita. Ia mengangkat-ngangkat Resita. Lalu, sengaja membawa-bawa gunting berupaya memotong rambut si gadis bermata sipit itu. Sebelumnya, Val tertangkap basah sedang melakukan upaya pemotongan buntut rambut saya yang sudah mencapai punggung.

Saya percaya dengan cerita Alit dan Resita. Karena bukti-bukti yang menunjukkan duo gerombolan si berat ini demen melakukan tindakan kekerasan cukup banyak. Saya termasuk yang kerap menjadi korban. Contohnya, ketika saya berpas-pasan dengan Val dan Christ di pintu masuk kantor, tiba-tiba kedua orang ini menyeret saya sambail berlari dan melempar saya masuk ke dalam mobil panther hijau Val. ‘Ini penculikan!’ teriak mereka. ‘Cepat masuk!’ Suara Christo bikin telinga saya pekak. Dan mereka memaksa saya memakai topi cina yang dibeli Val ketika kami mengunjungi sebuah pameran buku di Bandung. Sungguh perbuatan yang kurang pas. Topi cina tidak pantas di kepala saya, mengingat kepala saya kecil dan kulit saya cokelat. Harusnya, mereka memasang topi bulu-bulu suku Indian. Itu baru cocok.

Sungguh, saya tak paham. Ada apa dengan kedua makhluk itu. Mereka yang sudah tak lucu itu berubah jadi momok bagi saudara-saudaranya. Saya rasa, saya butuh obat penjikan untuk jenis binatang menjelang masa kawin atau jam-jam horny-nya.

Saya mulai berpikir, mungkin mereka menegak dopping sebelum berangkat kerja, dan dosisnya terlalu tinggi sehingga hiperaktif. Tapi, kecurigaan saya tampaknya tak beralasan. Menjelang deadline atau ketika mendekati makan siang, kelakuan mereka akan semakin beringas. Atau mereka mengosumsi obat perangsang melebihi takaran? Begitu pikir saya lugu. Sayang, kelakuan mereka sepertinya bukan tanda-tanda overdosis, deh.

Dan, malapetaka itu terus berlanjut hingga sore menjelang.
Saya baru pulang dari Planet Hollywood. Masuk ke kandang Gagas dengan ceria. Selayaknya seorang emak yang meninggalkan anak-anaknya, saya kangen ingin berjumpa wajah mereka dan mendengar celoteh nyaring mereka. Namun, keinginan itu luluh lantak seketika. Ketika saya sedang bicara berhadap-hadapan dengan Alit, Val dan Christ dengan sengaja menjepit kami. Menggencet kami di antara besar tubuh dan timbunan lemak perut mereka. Rasanya seperti ditindih dua mahmot zaman es. Ugh.

Melihat saya dan Alit tak berdaya, rupanya mereka ingin ekspansi mencari korban lain. Rizal (Bukune)—well, FYI, GagasMedia itu selain penerbitan, kandang ayam, juga membuka jasa toilet umum—datang buat pipis. Mereka dengan wajah manis pun menyambut. Rizal nggak curiga. Tengah enak dia berjalan menuju surga untuk buang hajat, Christo dan Val kembali melancarkan serangan. Tapi kali ini, saya juga terjepit di tengah-tengah mereka bertiga. Kalau yang pertama terasa empuk meski berat—mengingat alit, Christ, dan Val termasuk dalam suku perut buncit—yang kali ini terasa membentur tulang dan sakit. Ya iya lah, Rizal dan saya sama-sama terdiri dari susunan tulang yang dibalut minim lemak.

Masih dengan menyisakan tawa di ujung, tiba-tiba Muti datang. Sama kayak Rizal, dia pengen uang hajat: boker. Mukanya sih polos nggak curiga. Val dengan manis dan ramahnya mempersilakan Muti menggunakan kamar mandi. Ketika Muti hendak menuju toilet, kami bertiga (saya, Val, Christ) segera menyerang Muti. Menghimpitnya, menggenjetnya, dan membuatnya penyet! Namun, selalu sial bagi saya, saya selalu keplenet. Kali ini kepala saya dan Muti berbenturan cukup keras. Saya pusing. Muti puyeng. Kami jatuh bersamaan. Dua makhluk raksasa itu tertawa terbahak-bahak. Muti mendadak nggak pengen boker—semuanya masuk lagi ke dalam. Kepala saya masih cenut-cenut. Di antara sisa kesadarannya, Muti berlari kembali ke kandang Kambing. Berteriak memanggil Tata, memeluknya, dan menumpahkan segala petaka yang di hadapinya ke dada Tata yang nggak bidang.

Tata, dengan dada terbusung dan wajah yang distel sebagai sosok pelindung, kembali mengantarkan Muti ke ruangan Gagas untuk boker. Sebenarnya, segala upaya Tata untuk terlihat sangar sangatlah percuma. Ibarat pepatah, bagai menepuk angin. Christ dan Val secara wajah dan fisik jauh lebih besar dan sangar jika dibandingkan dengan Tata.

‘Kalian ngapain Muti?’
‘Nggak. Kita cuma ngajak dia main,’ jawab Val sok lugu.
‘Nggak mungkin. Muti sampai trauma.’ Tata defensif. Kali ini dia berjalan mendekati meja Resita yang udah kosong. Muti ngekor di belakangnya. Saya berdiri di dekat kubikal Alit yang posisinya di sebelah kubikal Resita. Christ berdiri di belakang Muti. Val di samping Tata yang sedang berupaya tampak seperti juru selamat.

‘Nggak Mba Tati—panggilan Muti pada Tata—mereka menggenjetku!’ teriak Muti. ‘Kulkas dua pintu itu membuat aku trauma!’
“Masak sih…!!!!’ teriak Val dan Christ berbarengan. Entah, siapa yang mengomando, Val dan Christ bersamaan berlari ke arah Muti dan kembali menggenjetnya. Tata yang melihat Val berlari ke arahnya refleks menyelamatkan diri. Ia melompat dengan gesit, dan sembunyi ke dalam kubikel Val yang ada di depan kubikel Resita. Saya juga heran, betapa dalam kondisi terjepit, Tata bisa meloloskan diri selicin belut. Padahal, dia kan spesies kuda nil?

Muti?
Well well well. Nasib Muti memang apes. Memilih pelindung yang jago meloloskan diri sendiri. Sebenarnya, Muti sudah melakukan upaya penyelamatan, namun ia salah langkah. Kalau Tata segera berlari dan melompat ke samping. Muti justru mundur ke belakang dan menabrak Christ. Ia seperti menyerahkan diri ke mulut beruang. Valiant pun datang menyerang. Dan Brukkkk…

Kembali Muti menjadi korban. Dan mengalami trauma yang berkepanjangan.

Saya?
Untungnya segera melipir ke kubikel Alit.

Sampai tadi pagi, ketika saya menyambangi Muti di Kandang Kambing, ia masih tampak shock. Trauma membekas. Bahkan pandangannya terlihat nanar. Jari kelingkingnya gemetar—ini kata Tata—pikirannya tak mampu mengingat apa yang sesungguhnya terjadi kemarin. Sekarang, saban melihat saya, Val, atau Chris, ia segera menyilangkan jari membentuk salib, sembari berharap menemukan pasak dan bawang putih.

Duuh, Muti… nasibmu, Nak!


2 comments:

tukang seduh said...

hehehe, kebayang....

fei_kassy said...

wakaka...
klo dibayangin kayaknya kantor di H.Montong pasti rame banget.
ada emak ayam dan suami serta anak2nya...
tak jauh di sebelah ada bapak kambing dan anak2nya juga...
besoknya peternakan apa lagi, bu?? ^^