Tuesday, February 12, 2008

Diary Emak Ayam I : Dan Mereka Begitu [Nggak] Lucu

Sesungguhnya, gue nggak pernah memimpikan punya suami dan anak. Tapi, lihatlah apa yang terjadi dengan hidup gue satu tahun belakangan ini.

Berkebalikan.

Gue punya satu orang suami yang bawel.
Sembilan orang anak yang bisa menjelma jadi iblis. Oh oke, tepatnya, sembilan ekor anak ayam yang suara ciap-ciap-nya lebih mirip dengungan tawon di kuping gue.

Mau tahu hal lainnya yang nggak menambah nilai dalam hidup gue?
They have one ‘opa’ yang juga nggak kalah berisiknya dengan mereka. Then I know, hanya ada dua orang yang harusnya bertanggung jawab atas bakat ‘berciap’ mereka yang overdosis itu.

Gue melupakan satu fakta yang mahapenting. Bokap dan opa mereka berasal dari satu garis keturunan langsung. Nggak ada yang perlu disalahkan. Buah jatuh nggak jauh dari pohonnya. (Maaf, suamiku dan ayah mertua, bukan bermaksud kurang ajar. Saya hanya jujur :p).

[Not] my lovely husband
Suami gue—seingat gue, dia belum ngasih mas kawin ke gue—adalah seorang peranakan Tionghoa yang lupa dengan budaya aslinya. Maksud gue ‘lupa’ adalah he cannot talk in his language. Malahan bahasanya Betawi-nya kental banget.

Kalau resolusi 2008 gue adalah mencoba lebih sabar, maka resolusi 2008 dia adalah, menguji kesabaran orang yang belajar sabar. (sigh…). Selain itu, dia hobi menggigiti gue. Entahlah, mungkin giginya gatal. Dia juga nggak boleh lihat gue punya makanan berlebih. Selalu menginginkan apa pun yang gue makan. Belakangan gue berpikir, mungkin harusnya gue mengadu ke Komnas HAM atau Kontras untuk semua kekerasan yang ia lakukan baik secara fisik maupun mental. Iya, mental. Teror mentalnya bisa membuat kesabaran gue menipis. Kebawelan tingkat tingginya membuat Papa Je—did I say his name?—selalu mengomentari semua hal. Atau sekadar mencari celah untuk mencela-cela gue. Tentunya bersama anak-anak kami.

Gue masih mengingat dengan baik hal-hal yang dia lakukan selama tiga tahun mengarungi biduk rumah tangga Gagas. Kasus kecoak albino, kasus suara di balik kubikel, dan yang teranyar, kasus lemparan tissue basah. (Mau tahu cerita lengkapnya? baca : kandang Jeffri, Pengakuan Dosa Kecoak Albino).

My kids are [not] my nightmare
Anak gue—gue lupa kapan gue ngelahirin mereka—adalah segerombolan makhluk yang berwajah [sok] innocent. Mereka bisa menjelma menjadi mimpi buruk buat elo. Kalau sudah ngomong, berebutan. Saling mau duluan. Ukuran tubuh mereka cukup variatif. Yang cowok badannya gede-gede, yang cewek mungil-mungil (gue adalah satu-satunya yang berukuran medium di keluarga perayaman Gagas). Mulut mereka pedes-pedes, cynical, very hars in words—penghalusan dari kata sarkas. Bokapnya bilang itu turunan dari gue. Padahal, sungguh, gue hanya mengajarkan mereka untuk jujur saja.

Kalau sudah ada maunya, mereka sanggup meneror gue dengan semua keinginan mereka. Kalau sudah berkaitan dengan soal makanan, oh my ciap!, berkerumun sambil teriak dengan mulut penuh. ‘Aku mau ini!’, ‘Emak, Abang ngabisin semua!’, ‘Aku mau yang mana ya?’—selagi mikir mo ngambil yang mana, makanannya keburu diembat saudara yang lainnya. Lain ketika, ‘Kita makan di mana?’, dan jawabannya akan bergemuruh. ‘Mau yang enak!’, ‘Pokoknya makanan manusia’—makanan manusia versi mereka adalah yang mengandung makhluk hidup a.k.a daging-dagingan, ‘Jangan yang mahal’, ‘Siapa yang bakal traktir nih’. Dan masih banyak dengungan lainnya.

Kalau lagi dibawa ke toko buku, mereka dengan sigap menghilang. Datang-datang sudah dengan tumpukan buku di tangan. Kerjaan gue, mengecek daftar belanjaan buku mereka. Kadang, mereka malah udah punya list buku mana yang ingin dibeli dengan menghitung peluang untuk dapat harga diskon. Perjalanan tur ke toko buku atau pameran buku sepertinya sangat mereka nantikan. Tentu saja. Karena, untuk menuju toko buku, mereka akan melewati gerai-gerai yang ada di mall. And you knowwwwww, mereka masing-masing bisa nyangkut di tempat yang berbeda. Jadilah gue dari belakang harus bermata setajam elang mengawasi gerak mereka.

Suatu ketika, demi menjaga kreativitas otak mereka, para anak gue dan bokapnya minta rapat di luar. Jadilah hari itu gue memutuskan rapat keluarga di sebuah restoran dimsum dengan sistem buffet di PIM. Well, harusnya gue udah menduga apa yang akan menimpa hidup gue. Mereka lebih berkonsentrasi pada makanan dibanding rapat. End up-nya, gue ngomong sendiri, nyatet hasil rapat sendiri, sementara mereka—termasuk bokapnya—sibuk bertukar makanan. Again, I just took my breath, sigh….

Kekurangajaran mereka nggak berhenti sampai di situ. Mereka juga menjahili Sang Opa (Aduh, Ciaps, gue bisa dipecat jadi menantu karena dianggap gagal mendidik kalian). Suatu hari, tiga orang anak gue harus pergi ke Gedung Kesenian Jakarta demi menghadari sebuah undangan. Karena gue lagi ribet ama kerjaan gue, gue minta mereka pergi bersama Opa. Namun, karena si Opa juga nggak jelas mau pergi pukul berapa, jadilah tiga makhluk itu jalan duluan ke GKJ.

Karena permintaan Sang Opa, akhirnya gue nyusul mereka ke GKJ. Sampai di sana, gue langsung menelepon salah satu anak ayam itu. ‘Kita lagi makan di steak obong, Mak! Emak mau dipesenin apa?’ Tuh, lagi, harusnya gue sadar, mereka akan bergerak setelah perut mereka terisi. Akhirnya, gue dan Sang Opa menyusul ke sana. Tiga makhluk itu tampak menikmati makan malam mereka. Senyum mengembang di wajah mereka ketika melihat Opa datang. ‘Opa makan!’ sapa mereka ramah—oh, kenapa perasaan gue nggak enak lihat senyum yang mengembang di wajah mereka. Tapi, kecurigaan gue sirna. Mereka dengan baiknya bertanya, Sang Opa mau pesan apa.
‘Jus tomat,’ jawab Opa.
‘Bapak mau makan?’ tanya gue.
‘Nggak.’

Time was ticking. Kita semua harus segera menuju GKJ. Pas giliran bayar, Sang Opa Tereak, ‘Mbak, bill!’ Nah, inilah kali berikutnya kecemasan gue muncul. Senyum kekenyangan [or kemenangan, ya?] mengembang di wajah mereka waktu lihat Opa-nya ngeluarin duit buat bayar. Nggak ada upaya menahan. Bahkan mereka duduk manis menunggu Sang Opa membayar. Gue memelototin mereka. ‘Ayo, bilang makasih,’ bisik gue. Kompak mereka tereak, ‘Makasih, Opa!’, waktu si Opa selesai bayar. Aduuuuh, Gustiiii, siapa sih yang ngajarin???

Nggak cukup di situ aja. Waktu mau nyeberang. Mereka mulai berulah lagi. Lalu lintas emang padat. Kendaraan pada nggak mau kasih kesempatan buat kita nyeberang. Sang Opa sudah mengambil posisi paling pinggir. Namun, dasar turunan bawel, mereka pada tereak, ‘Opa…kita mau nyeberang pake zebra cross aja!’
‘Hah? Mana zebra cross-nya?’ tanya Sang Opa bijak.
‘Itu!!!!’ Tiga suara yang nggak jelas tingkatannya berkumandang.
‘Iya dah….’ Si Opa berbalik menuju jembatan penyeberangan. Melihat Opa-nya malah menuju jembatan penyeberangan, mereka tereak lagi. ‘Opa, kita mau pake zebra cross. Bukan jembatan penyeberangan.’
‘Mana sih?’ Suara si Opa mulai meningkat beberapa desibel.
‘Ituuuuu,’ tunjuk mereka. Si Opa pun berjalan ke zebra cross. Ketika si Opa sudah mencapai zebra cross, jalanan mulai lengang. Anak-anak ayam turunan iblis—artinya turunan gue ama bokapnya donk?—ini pun tampaknya berubah pikiran.
‘Opa, nggak jadi zebra cross. Dari sini aja. Udah sepi!!!!’ Dan mereka menyeberang duluan meninggalkan Opa-nya di belakang. Si Opa pun berlari menyeberang menyusul mereka yang tertawa-tawa.

Lagi, gue cuma bisa mengelus dada. Sigh…. Maafkan saya bapak mertua.

But yes, I am unperfect mother
Gue tahu, gue bukan emak yang sempurna buat mereka. Juga bukan istri yang manis buat suami gue. Apalagi menantu yang baik buat mertua gue.

Tapi, sungguh gue merasa cukup dengan semua yang gue miliki saat ini. Hari-hari buruk gue berjalan menyenangkan karena semua kelakuan ‘lucu’ sembilan anak gue, satu suami disfungsional gue, dan seorang Opa yang bisa dengan sabarnya melayani keinginan para cucu. Ini belum termasuk Om Ayam, Pak Dhe Ayam, Tante Ayam, dan Pak Lik Ayam mereka yang juga dengan sangat sabar—atau tak berdaya—mengikuti semua kemauan sembilan anak ayam tersebut.

Harus gue akui, gue bisa bertahan sampai hari ini karena gue punya mereka. Papa Je, Christo Bullier, Alit Unyil. Resitul ‘Ntul, Nyiz Embil, Wahyuto, Aneesy Pipi Merah, Valliant si Bandot, Deta Detul, dan Amel Imel. Guys, thanks for always cheer my days up!

Semoga mereka tahu, betapa gue sangat mencintai mereka. Secacat apa pun kelakuan mereka. We are not perfect family, rite? But, kayak kata Christo, kita cinta semua apa adanya, kok!

1 comment:

jeffri said...

we're all imperfect in the most perfect way