Friday, July 25, 2008

Surat Cinta

AKU pernah sekali menulis surat cinta.

Setidaknya, aku menganggap itu surat cinta. Jangan dibayangkan itu sebuah surat cinta yang penuh dengan pernyataan sayang dan ungkapan kasmaran.
Surat cintaku tidak kutulis di selembar kertas wangi dengan gambar hati yang merah membara. Tidak pula aku masukkan ke dalam sebuah amplop berwarna merah jambu yang distempel kecup bibir.

Surat cintaku biasa saja.

Ditulis dalam sebuah buku harian cokelat yang tak beraroma, kecuali bau kertas itu sendiri. Buku harian itu pun pemberian si Pujaan Hati. Lelaki yang berhasil merebut hatiku dan rasa ingin tahuku, saat itu, tentang apa yang ia pikirkan.

Surat cintaku menyimpan ceritanya. Cerita tentang lelaki yang aku sebut berwarna biru. Langitku. Cakrawalaku. Angkasaku. Dan aku adalah angin yang mencumbui setiap jengkal luasnya dalam pandang yang tak bisa dibatasi. Tidak oleh siapa pun.

Buku harian cokelat itu adalah lembaran surat cinta kami. Hari pertama aku mendapatkannya sebagai hadiah, tak lebih sebuah oleh-oleh dari perjalanan liburannya ke negara bagian lain. ‘Aku tak tahu harus memberi apa,’ katanya. Aku tertawa saat itu. Tak berharap mendapatkan apa pun.
Tapi, begitulah dia. Seperti langit yang bisa kaulihat, tapi tak kauketahui batasnya, ia selalu penuh kejutan. Dia mengulurkan sesuatu berbentuk segi panjang. Tak dibungkus kertas kado yang cantik. Hanya kertas putih tipis yang pastinya langsung dari toko ketika ia membeli.

‘Hey, you don’t have to….’

‘Say that till you open it,’ sahutnya.

Aku membuka kertas putih tipis dan menemukan buku harian itu. Aku tak ingat. Sepertinya bibirku melongo membentuk huruf o. Entah kenapa, itu seperti buku harian yang selama ini ada di bayanganku. Cokelat, kuno, dan seolah sanggup menjaga semua rahasia yang kausimpan bersama waktu meski ia tak berkunci.

Dia tersenyum. Senyum yang manis. ‘Hope you like it.’

‘I do like it.’

‘I have no flower. I mean, I don’t want to buy a flower.’

‘I do not like flower.’

‘I know, but some men do that.’

‘You do not.’

‘I want. But I know, you do not like it. I choose this…as a substitute for a flower….’
Dia mengulurkan sebuah boneka kecil. Anjing berkepala tiga yang ada dalam buku Harry Potter. Hewan yang jauh dari imut, bahkan di buku dan film terlihat sangat mengerikan. Teman perempuanku tertawa ketika tahu boneka apa yang ia berikan kepadaku. ‘Masa kasih cewek boneka beginian!’ komentar temanku.

Begitulah dia. Romantis dengan caranya. Kau tak akan percaya. Aku pernah menuliskan surat cinta untuknya, dan berjanji memenuhi halaman dari setiap lembar buku cokelat itu dengan surat cinta yang serupa cerita.

Aku pernah menghabiskan malam memikirkannya. Mengingat setiap detik yang kami lalui di antara hingar-bingar pertemanan. Apa yang ia ceritakan. Ekspresinya. Tawanya. Wajah bengalnya yang sok inosens ketika berhasil mencuri cium di tengah jalanan kota. Dan hal konyol yang ia lakukan. Kadang, dengan sudut mataku, aku mengamati cara dia melihatku di antara keramaian. Sejujurnya, aku jatuh cinta pada caranya menungguku di ujung bangku kayu di tepi sungai itu, pada kencan tak resmi kami yang pertama di penghujung musim semi. Aku jatuh hati pada caranya bertanya, bagaimana bahasa bisa tercipta. Aku jatuh pada rasa jengah ketika ia tersenyum kecil tanpa banyak bersuara. Dan itu yang aku tuliskan dalam surat cintaku yang pertama untuknya.

Surat cintaku adalah Satu Kisah tentang Dia. Langitku. Biruku. Angkasaku. Cakrawalaku.

Seseorang yang pernah membuat waktuku bergulir begitu lambat dan manis. Seorang yang padanya aku pernah berharap, ada warnaku di bianglala miliknya.

Kalau kau berpikir harus ada kata cinta dalam surat cinta, maka bacalah surat cintaku untuknya. Tak ada satu pun kata cinta di situ. Hanya ada rekaman hal yang kuingat tentang dia sepanjang hari. Hanya ada cerita tentang mimpinya dan mimpiku. Berbagi cerita. Berbagi rasa. berbagi rahasia. Berbagi tawa. Berbagi duka.

Begitulah surat cintaku. Aku hanya serupa pengamat yang menyukai objek yang dilihatnya dan mencoba mendeskripsikan. Bagiku, itu melampau rasa cinta itu sendiri. Tak ada yang mampu menjelaskan cinta, selain cinta itu sendiri. Dan pada akhirnya, semua kembali kepada merasakan. Bukan mengatakan.
*
AKU pun pernah menerima surat cinta darinya.

Setidaknya aku menganggapnya itu surat cinta. Jangan dibayangkan itu sebuah surat cinta yang terangkai penuh kata indah layaknya pujangga. Bukan. Dia tak pandai menulis. Beberapa pilihan katanya bahkan membuatku tertawa geli. Tapi, entah mengapa, aku tahu, ia menulis dengan jujur, dan berusaha keras agar bisa menulis dengan indah.

Surat cintanya tidak ditulis di selembar kertas wangi dengan gambar hati yang merah membara. Tidak pula dipenuhi kata yang romantis. Tapi, entah mengapa, surat cintanya terasa manis dan mampu membuat pipi menjadi semerah dadu.

Surat cintanya memang tidak biasa.

Ditulis dalam sebuah buku harian cokelat yang tak beraroma, kecuali bau kertas itu sendiri. Buku harian itu pun pembeliannya sendiri.

Surat cintanya menyimpan cerita tentangku. Ia mulai menuliskannya di halaman terakhir buku harian cokelat itu. Begitulah kami berkirim surat cinta; lewat sebuah buku harian cokelat. Aku memulainya dari depan, ia memulainya dari belakang. Kami akan bergantian membawa pulang buku cokelat itu hanya untuk menulis surat cinta yang serupa cerita.

Terus seperti itu. Selang dan berseling. Kau tak akan pernah tahu, bagaimana kami bermain tentang peran tukang pos mengantarkan surat cinta. Bagaimana kami berbagi rasa. Seperti apa kami membagi rahasia. Kami seumpama dua mata-mata cilik yang setiap hari saling melempar kode. Bertukar sandi. Lalu, buru-buru pulang ke persembunyian masing-masing untuk menemukan jawaban teka-teki. Tentunya dengan dada berdebar dan hati yang seumpama bunga mekar. Tentunya ini berbeda dengan cerita dektektif beneran. Yang membaca kode sandi dengan hati cemas dan pikiran yang dipenuhi rasa ingin tahu, kapan tibanya hari naas.

Aku dan dia berjanji, akan bertemu di halaman tengah untuk memadukan kata di halaman terakhir buku harian cokelat itu. Kami menganggap itu janji yang manis.

Sungguh.
**
APA yang kauharapkan dari sebuah kisah cinta yang pernah diwarnai surat cinta?

Aku pernah sekali menerima surat cinta dalam amplop biru yang wangi. Lidah amplopnya direkatkan dengan isolasi berwarna cantik : baby blue. Biru pucat, aku menyebutnya.

Surat cinta yang aku terima tidak ditulis di atas selembar surat bergambar hati dengan goresan ‘perhaps love’. Amplop itu hanya berisi dua kartu remi, masing-masing bergambar king dan gueen hati, sobekan separuh dari satu halaman paling belakang buku cokelat. Ia pernah merobeknya. Hari itu, ia memutuskan untuk mengembalikannya kepadaku, sehari sebelum semuanya harus selesai, dan mengantarkannya sendiri kepadaku.

Senyumnya tipis, dan tetap manis. ‘Sometimes, king and queen cannot “sit” together in the real world. But, still you have that place in my heart.’ Hari itu, aku menjadi ratu tanpa takhta dan mahkota di hatinya.


That was the last time; we kissed to each other.

Begitulah cerita cinta yang diwarnai surat cintaku berakhir. Tak pernah bertemu di akhir cerita.
Tak apa. Tidak setiap cerita dimaksudkan untuk bahagia bersama. Kita bisa berbahagia sendiri dan bertukar cerita agar yang lain merasakan bahwa hal biasa bisa menjelma luar biasa pada waktunya.

Aku merasa bahagia karena pernah sekali menulis surat cinta. [13]

Jakarta, 25 Juli 2008

13 comments:

Ackmali@ said...

nice story and rare theme:) salam kenal ya... dikau editornya marriagable yang katanya rame kaya pasar malem ntu kan???

achie said...

ak pernah menulis surat cinta untuknya..
Juga ga da kata cinta dsana..
Hanya goresan tinta yg memenuhi lembar cerita, bersamanya..
Dan itu membuatku amat bahagia.. :)

salam kenal mba windy..
Ak seneng bca tulisanmu..
Simple tp sgt bermakna.. :)

Windy said...

terima kasih telah bertandang ke kandang saya.

terima kasih telah meninggalkan potongan kalimat itu dan berbagi cerita yang membuat kamu bahagia.

saya juga bahagia membaca tulisan kalin.

salam kenal juga.

ianariezwari said...

mbak blognya bagus banget...
aku jadi pengen terus nulis
dan seneng banget baca tulisannya Mbak...

salam kenal mbak Windy...

utopia girl said...

ugh... so sweet.... emang beda ya baca blognya editor... kekekeke... ditunggu karya berikutnya, mbak!!

Enno said...

ada potongan kisah saya dalam cerita ini. kok bisa ya? nice writing... salam kenal ya windy :)

windy said...

semuanya, terima kasih sudah berkunjung. mau kah kalian menceritakan tentang surat cinta pertama kalian?

salam,

kekasiHujan said...

Pernah sekali aku menulis surat cinta,
surat cinta yang pertama dan mungkin yang terakhir...
Aku membuatnya dEngan airmata, karena aku tahu surat cinta itU untUk sahaBatku,
sahaBat terbAikku..
Seringnya berSama, membuatku mencintainya, tentU saja bukan cinta layaknya sahabAt.
Namun, sekali pun aku tak pernah memberikan surat cinta itU padanya,
karena aku hanya menyimpannya di antara lipatan buku harianku..
Karena aku tak punya nyali untUk itU.
Aku takuT menyakitinya,
aku takuT merusak rasa SahaBat antara aku dan dia.
Aku hanya bisa memandangnya hanya dalam sisi gelapku,
Aku layaknya ikan yang kehausan,
karena sekali pun aku tak mau ucApkan "aisHiteru" padanya.
HingGa suatU ketika, warna puTiH surat itU telah memudar,
namun cintaku padanya tak kan pernah memudar..
DEngan penuh airmata, aku memasukkannya ke dustbin kamarku,
berharap jika cintaku padanya ikuT terbuang, karena sekali pun aku tak menginGinkan untUk mencintainya..
Biarlah dia menganggapku hanya seorang sahabat yang tak patut untUk dicintai lebih...

UntUk sahaBatku,

jan phaiz said...

aku pernah menulis surat yang kutujukan pada seorang gadis teman sekelasku di smp.. semua orang akan bilang bahwa itu surat cinta (seperti kataku dulu).. tapi tidak sekarang.. nampaknya itu hanyalah surat cinta [latah] yang dipaksakan terwujud bukan demi cinta, tapi entah.. jadi tidak akan kuceritakan kisah surat cinta [monyet] yang satu ini.. :D

inilah surat cintaku yang sesungguhnya.. yang sejujurnya, tak pernah betul-betul kusampaikan pada sang pemilik 'cinta' yang kuharap dan kurindu selalu senyumnya..

aku menyebutnya edelweys.. penamaan yang [mungkin] mengikuti intuisi karena belum bisa kudapat alasan rasional atas pengambilan nama bunga abadi legendaris itu menjadi sebutannya untukku.. kami saling kenal nama dan rupa sejak SMP.. aku menaruh perhatian padanya entah sejak kapan.. yang kusadari adanya desir tak terjabarkan saat SMA.. ketika kumulai rindu di saat hari-hari libur tanpa jumpa dirinya.. saat ku sedikit resah dalam angan ada raganya.. saat ku bungah ditambah pipi memerah memandang senyumnya merekah..

hari demi hari, pesonanya senantiasa hadir menghiasi ruang hati yang jarang terisi.. sementara akulah sang pemilik rasa itu.. sendiri.. hingga dia pun berhasil dan mau kuajak turut berperan.. ya.. tak lagi kusendiri.. rasa itu milik kami berdua.. aku dan dia.. edelweys..

suatu hari, kutulis sebuah surat.. tentangnya.. tentangku.. tentang kami.. baru kusadari makna nama edelweys yang kuberikan tanpa sebab padanya..

edelweys bunga abadi.. pada ketinggian pegununganlah ia.. yang sulit terjamah.. yang tak mudah teraih.. sesulit kenyataan di antara aku dan dia untuk sekedar bertukar cerita belakangan ini.. sama tak mudahnya bagi diriku menjangkau dimensi sudut pandangnya.. aku dan dia pernah seiya sekata untuk menuju satu titik.. namun tak pernah terbayangkan baik olehku maupun olehnya, jalan kami menuju titik itu tak bertitik temu.. hingga keraguan menghantui.. hingga resah menyesakkan sekali..

aku tak pernah tahu nama edelweys yang kuberikan padamu justru menghukumku begitu berat.. menjadi semacam penguji kelayakan yang di luar jangkau.. kau sungguh tak terjamah..

maka kuputuskan menulis sebuah surat tentang keluh kesah yang selama ini hanya kusampaikan dalam kebisuan di antara kami.. ekspektasiku tak muluk setelah dia baca suratku.. aku hanya ingin meberitahukan sesuatu [lagi] padanya.. tentang rasa yang pernah dan masih mengalun indah di hatiku.. tak peduli ku harus seorang diri.. karena kurasa itu lebih daripada [yang kutahu] berdua, tapi terasa sepi..

kutulis kata demi kata tanpa kupikir panjang nilai indah rangkaiannya.. kuhanya mau dia tahu.. itu saja..

dan..

aku lupa.. dia berada jauh nun di ketinggian pegunungan tak terjamah.. bahkan melalui surat pun, aku tak yakin mampun menyampaikannya.. aku tak punya merpati, atau burung hantu untuk berkirim surat dengannya.. sayangnya, aku pun belum berhasil mengumpulkan keberanianku menghampiri kediamanmu..

dan..

tak ada surat menyurat.. tak ada kalimat seiya sekata.. tak ada apa pun yang cukup memberikan alasan mempertemukan kami lagi bahkan hanya sekali di satu titik..

setidaknya untuk saat ini..



...

mba, malah curhat ya?? hihhhihii..
ak ga punya keberanian untuk nulis itu di blog pribadiku sendiri.. takut memperkeruh keadaan.. yang setidaknya sedang netral sekarang..

eh mba.. jujur ya.. kisah Mba dengan "biru" sangat memukau.. kenapa ngga dijadiin novel atau semacamnya mba?? aku sangat menikmati membaca tiap detail adegan antara tokoh aku dan "biru".. belum lagi ditambah tiap pemaknaan yang diselipkan.. menambah indah tulisan mba..

semangat!!
^_^

delyoper said...

bolehkan aku membajak ide tentang buku harian itu? Menulis dari depan dan belakang dan bertemu ditengah-tengahnya. ide yg menarik

windy said...

@delyoper: ;D please, as long as you put the courtesy that shows the fact where you get the idea from.

penulis sederhana said...

nice story mbak windy,...

-Ryrie- said...

aku selalu mencintai "malam", "malam" yang duduk diam menemaniku menatap indahnya bintang, yah hanya diam, lalu ia menatapku dan tersenyum manis, mengetikkan ucapan selamat ulang tahun untukku di notepad lappy mungilku, begitulah cara dia mencintaiku, dan caraku mencintai, hanya dengan diam, tanpa untaian kata cinta tapi selalu menghuni relung hati :D